Jika kita menengok ke belakang, menelusuri lintas sejarah di Litaq Polewali Mandar, tak dapat dimungkiri bahwa nama Bumi Balanipa ini, adalah nama yang paling paten dan monumentum sejarah yang bisa bertutur banyak tentang masa lampau yang teramat jauh kebelakang dengan segudang kearifan leluhur dari berlapis-lapis generasi, yang bisa jadi panduan untuk memotivasi diri menapak penyesuaian masa kekinian dan selanjutnya menyongsong hari esok buat generasi pelanjut kita.
Yang kedua tak dapat dibantah bahwa Bumi Balanipa ini, sentralnya ungkapan-ungkapan leluhur yang penuh sopan, dan gerak langkah yang penuh santun, suatu bukti dengan melalui salah satu ugkapan, yang mana ungkapan ini sudah membudaya di masyarakat Mandar, utamanya di Balanipa ini dan ungkpan tersebut sampai detik ini, tak pernah lapuk karena hujan, tak pernah lekang karena panas, yang mengatakan :
“NA TAMA DI BALANIPA, MAINDANG KEDO PUANG, NAUPOKEDOI NAUNG MOLIMBO-LIMBO”. (Saya akan ke Balanipa, meminjam/memeperhatikan tegur sapa yang sopan, gerak langkah yang santun, demi kucontohi, kuikuti untuk menghadiri acara-acara resmi).
Justru itulah para tokoh budayawan Mandar, sebahagian besar mengtakan, bahwa sastra Mandar ini, utamanya di Bumi Balanipa, dapat dibagi tiga point, yakni :
1. Kalindaqdaq
2. Pappasang
3. Pemanna
II. KALINDAQDAQ
Ciri kalindaqdaq, seperti umumnya puisi, adalah keterbatasannya, ketakbebasannya, yang membedakannya dengan toloq, karena toloq, seperti umumnya prosa, lebih bebas, lebih leluasa dalam bentuk dan aturan-aturan pengucapan.
Seperti halnya pantun Melayu, tembang Jawa, kelong Makassar, Elong Bugis, dan londe Toraja; maka kalindaqdaqpun diikat oleh syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi : jumlah larik dalam tiap bait, jumlah suku kata dalam tiap larik, dan irama yang tetap.
Menurut kebudayawan Mandar, kalindaqdaq Mandar mempunyai bentuk :
a. tiap bait terdiri atas 4 bait larik (baris).
b. larik pertama terdiri atas 8 suku kata.
c. larik kedua terdiri atas 7 suku kata.
d. larik ketiga terdiri atas 5 suku kata.
e. larik keempat terdiri atas 7 suku kata.
f. merupakan puisi suku kata.
g. Persajakan kalindaqdaq umumnya bebas, meskipun ada juga yang bersajak-akhir aaaa, abba, aabb.2)
Tema-tema kalindaqdaq :
1. humor (kalindaqdaq pangino)
2. satire (kalindaqdaq paelle)
3. kritik sosial (kalindaqdaq pappakaingaq)
4. pendidikan/nasihat (kalindaqdaq pipatudu)
5. keagamaan (kalindaqdaq masaalla)
6. kejantanan/patriotisme (kalindaqdaq pettomuaneang)
7. percintaan/romantik (kalindaqdaq to sipomongeq).
III. KALINDAQDAQ PANGINO (PUISI HUMOR)
1. Mua matei paqbokaq
Da mu balungi kasa
Balungi benu
Tindaqi passukkeang
(Kalau meninggal petani kopra
Jangan kafani kain kasa1)
Kafani saja serabut kelapa
Passukkeang2) jadikan nisannya
2. Indi tia to muane
Kande-kande sarana
Tiakkeqna kaca gommo
Magallisnaq domai.
(Aku ini pahlawan
Pahlawan dalam kue-kue
Terangkatnya toples
Habis, bersih, disikat tanpa sisa).
3. Indi tia to muane
Makko kaiyang sarana
Meloq si pattombangan di ule-ule bue
Meloq siruppuang kasippi.
(Aku ini pahlawan
Selalu memperhatikan mangkok besar
Rela sama bergelimang di bubur kacang hijau
Ikhlas lebur bersama kasippi1)
4. Indi tia to muane
Bolu peranggi sarana
Meloq di cingga, dipasicingga kue lapis
Melo si accurang sakko-sakkoq2.
(Aku ini pahlawan
Adalah mitranya kue bolu paranggi
Rela diwarnai, bersama kue lapis
Ikhlas hancur bersama sakko-sakko).
5. Indi tia passikola
Buku tulis sarana
Meloq dibaca
Meloq dipanulissi
(Aku ini anak sekolah
Adalah pencintanya buku tulis
Siap untuk dibaca
Sedia untuk ditulis).
IV. KALINDAQDAQ PAELLE (PUISI SATIRIK)
1. Polei paqlolang posa
Pesiona balao
Soroqmo dolo
Andiang buku bau
(Telah bertandang seekor kucing
Yang mengaku utusan tikus
Sudahlah, pulanglah
Disini tidak ada tulang-tulang ikan).
2. Mane dioi di baqba
Ibussang baba bua
Tirimba posa
Naola penawannaq.
(Baru ada diambang pintu
Si rakus gendut
Terhalau kucing
Ditimpa hembusan nafasnya).
3. Landuri diong I lissi
Punno lisseq tondonnaq
Timbeq-i naung
Sarappiq1) saq uyungan.
(Lewat dijalan si Lissi
Penuh kutu kepalanya
Lempari kebawah
Sisir rambut seikat).
4. Landuri diong I Kaco
Massoppoq patti loqbang
Meloq disanga
Pole ditana Jawa
(Lewat jalan si Kaco
Memikul peti kosong
Mau dikata
Datang dari pulau Jawa).
V. KALINDAQDAQ MAPPAKAINGAQ (KRITIK SOSIAL)
1. Pitu tokke pitu sassa
Sattindorang buliliq
Sangnging ma uwang
Baleri tomawuweng.
(Tujuh tokek tujuh cecak
Dan seiringan kadal
Semuanya berkata
Genit lagi si orang tua).
2. Muaq diang to mawuweng
Baler mendulu
Alangi rottaq*)
Patuttuang tondinnaq
(Bila ada orangtua
Genit kembali
Ambilkan sendok nasi
Pukulkan ke tengkuknya).
3. Mau ana’, mau appo
Mau biya, mau perruqdusang
Mattedoang koyokang
Ito tambeasa maq gau.
(Namun anak kandung, maupun cucu
Sekalipun cibirang tulang, kendatipun keturunan
Menendang kobokan
Orang tak pernah menduduki fungsi).
4. Innami takkeamaq lino
Tattallang dunnia
Poppor loka
Musanga uru sei.
(Bagaimana tidak akan kiamat bumi
Tak kan tenggelam dunia
Tandang pisang yang dibawah
Disangka tandang pisang yang diatas).
5. Di pebulu dami manu
Di pemarabe dami
Andiang tomi
Di peillang sissiqna.
(Bulunyalah ayam yang dilihat
Mahkota indahnya yang dipandang
Tiada perlu lagi
Diperhatikan sisik keberadaannya).
6. Pammanauangi tuq-u paqmai
Mua ita to tuna
Pammongeangi tuq-u ate
Muaq ita to kasi-asi.
(Sedih nian sanubari
Bila kita orang hina dina
Sakit nian hati
Jika kita orang miskin).
VI. KALINDAQDAQ PIPATUDU (PUISI PASTORAL)
1. Dipameang pai dalle
Dileteangngi pai
Andiang dalleq
Mambawa alawena.
(Rezeki harus dicari
Dan dibuatkan titian
Tiada rezeki
Yang datang sendiri).
2. I Cicci paq manini
Kaiyang simbolongnaq
Di pettuppuang
Diperauang sorong.
(Si puteri kesayanganlah kelak
Besar indah sanggulnya
Dipertahankan/dikokohkan
Dimintakan mas kawin).
3. Nadiondoq-i I Cicci
Na di damo-damoi
Tuo marendeng
Diang bappaq dalleq-na.
(Diayun puteri kesayangan
Dengan belaian kasih sayang
Panjang umur
Semoga mendapat rezeki).
4. Diang dalleq mulolongan
Daq mu gula-gulai
Andiang tu-uq
Nasadia-diannaq.
(Ada rezeki diperoleh
Jangan diroyalkan
Sebab tidak akan
Selalu ada).
5. Usurung mallete lembong
Matindo manu-manu
Maq ayumai
Dalle pole dipuang.
(Walau harus menyeberangi lautan
Tidur laksana burung
Demi berikhtiar/berusaha
Rezeki dari Yang Maha Kuasa).
VII. KALINDAQDAQ MASAALA (PUISI RELIGI)/AGAMA
Disebut kalindaqdaq masaala, karena berisi masalah-masalah keagamaan.itulah sebabnya kalindaqdaq masaala umumnya terdiri dari dua bait. Bait pertama mengajukan masalah, bait kedua memberikan jawaban.
1. Inna sambayang-sambayang
Sambayang tongang-tongang
Meloq u issang
Meloq uu ajappui.
(Mana sembahyangnya sembahyang
Sembahyang yang sebenar-benarnya
Ingin kutahu
Ingin kuyakini)
Indi sambayang sambayang
Sambayang tongang-tongang
Tandi kedoang
Napakedo alawena.
(Inilah sembahyangnya sembahyang
Sembahyang yang sebenar-benarnya
tidak digerakkan
digerakkan dirinya sendiri).
2. Ahera oroang tongan
Lino dindan di tiaq
Borong to landur
Leppang dipettullungngi.
(Kampung akhirat tujuan akhir
Dunia ini hanya pinjaman
Ibarat musyafir
Sekedar singgah untuk berteduh).
3. Meillong domai ku’bur
Siola sulo-oq mai
Oroang ku’bur
Taq lalo mappttannaq.
(Dunia kubur memberi isyarat
Hendaklah anda siapkan obor
Sebab disana diliang kubur
Gelap gulita tiada taranya).
4. Sambayang di tiaq tu-uq
Namaka di pesulo
Kedo macoa
Namaka di pekasor.
(Sembahyang itulah yang paling baik
Dijadikan obor dalam kegelapan
Karya yang mulia
Bekal yang cocok dijadikan kasur).
5. Tandi soppoi sambayang
Tandi teweq-i jenqne
Iyamo tiaq
Maparri di pogau.
(Tidak akan dipikul sembahyang
Tidak akan dijinjing wudhu
Itulah dia
Sukar dilaksanakan).
6. Manu-manu apa tiaq
Pole di dappingallo
Zkkir bambaqna
Koroang pecawannaq
(Burung apa gerangan
Yang datang disaat subuh
Zikir suaranya
Al-Qur’an tawanya).
7. Apa ande di suruga
Pewongan di alleqna zikkir
Tambottuq
Lailaha Illallah.
(Apa gerangan santapan di surga
Bekalan diperantaran zikir
Yang tak pernah putus
Kalimat Lailaha Illallah).
8. Manu-manu disuruga
Saiccoq pole boi
Mappettuleang
To sukku sambayanna.
(Burung indah penghuni surga
Senantiasa datang mengintai
Mengintai dan menanyakan
Orang yang sempurna shalatnya).
9. Passambayang mo-oq dai
Pallima wattu mo-oq
Iyamo tu-uq
Pewongan diahera.
(Hendaklah anda tegakkan shalat
Lima waktu selalu sempurna
Sebab itulah bekal abadi
Menuju hari kemudian).
10. Apamo di tiri alang
Di parakkaqna dunnia
Annaq mikkeqde
Boyang sambua-bua.
(Apa yang diciptakan alam
Dalam membangun dan menata bumi
Sehingga berdiri
Rumah yang satu-satunya).
11. Boyang sambua di lino
Daq dua arriannaq
Pitussulapa
Pitu pepattoang.
(Rumah satu di dunia
Dua tiangnya
Tujuh sudut
Tujuh jendelanya).
12. Boyang dilalang di kaodong
Pitu sawa-sawannaq
Mesa tibua
Pura dipepattoi
(Rumah didalam kenangan abadi
Tujuh bubungan atapnya
Satu terbuka
Semuanya ditempati mengintai).
13. Pappeyappu daq di Puang
Di tajallinna Muhamma
Rapangi tu-uq
Bilang sappulo appe.
(Keyakinanlah kepada Yang Maha Kuasa
Sinar dan cahaya Muhammad
Bagaikan
Bulan purnama raya).
14. Pappeyappu daq di Puang
Tannaratang paindoqna
Si pekkedeang nurung
Anna Muhamma.
(Keyakinanlah kepada Yang Maha Pencipta
Betapa terang cemerlangnya
Sejajar dan searah nurung
Dengan Muhammad).
15. Muaq polemi manini
Di andiang rapanganna
Iya issanna
Lailaha Illallah.
(Bila tiba kelak
Yang tiada perumpamaannya
Didalam pengetahuannya
Oleh Yang Maha Agung).
16. Ayappui tonga-tongan
Rokonna asallangan
Iyamo tu-uq
Pewongan di ahera.
(Pahami yang sebenar-benarnya
Semuanya rukun Islam
Sebab itulah
Bekal akhirat kelak).
17. Bismillah akkeq letteqna
Alepuq pelliaqna
Turang loana
Lailaha Illallah.
(Bismillah angkat kakinya
Alif langkahnya
Tutur katanya
Lailaha Illallah).
VIII. KALINDAQDAQ PETTOMUANEANG (PUISI PATRIOTISME)
1. Indi tia to muane
Bannang pute sarana
Meloq di bolong
Meloq di lango-lango.
(Aku ini pahlawan
Adalah benang putih
Yang siap basah
Menghadapi warna apapun).
2. Muaq tongano muane
Pattandai mo-oq galung
Nadiengei
Sipettombangan cera.
(Bila anda betul pahlawan
Tunjukkanlah lokasi dan lapangan
Akan di tempati
Sama bergelimang di telaga darah).
3. Menangi kaccang tunggara
Menangi na sumobal
Tanda mokau
Tuali di lolangan.
(Semakin kencang angin tenggara
Semakin layar terkembang
Suatu pertanda pantang mundur
Balik surut dari samudera luas).
4. Takkalai di sobalang
Dotai lele ruppu
Dadi nalele
Tuali di labuang.
(Sekali bahtera layar terkembang
Karam dan hancur tak kuhiraukan
Asal tidak gempar terseriar
Balik surut ke pangkalan semula).
5. Muaq purami di palandang
Pemali diliaiq
Muaq purami di pobambaq
Pemali di peppondoq-i.
(Jika sudah terbentang
Pantang dilangkahi
Bila sudah diikrarkan
Pantang membelakangi).
6. Muaq purami di pau
Purami di poloa
Daq leqba tia
Soroq tammappasaqbi
(Bila kita sudah berucap
Jika mulut sudah berbincang
Jangan sampai mencoba diri
Surut menghilang tanpa pamit).
7. Dotai sisaraq
Salakka annaq uluttaq
Dadi tia sisaraq
Loa tongatta.
(Lebih baik berpisah
Badan dengan kepala
Dari pada berpisah
Ungkapan yang telah diucapkan).
8. Dotai tau sisaraq
Maraqdiatta
Dadi tia sisaraq
Assamalewuangtaq.
(Lebih baik kita berpisah
Pemimpin kita
Dari pada berpisah
Persatuan dan kesatuan kita).
9. Namanetteaq lipa
Sureq di sigayangngi
Puccana cera
Birinnaq mata gayang.
(Aku akan menenung sarung
Corak saling bertikaman
Kepala coraknya darah
Pinggirannya mata keris).
10. Tania passobal
Muaq mappelinoi
Lembong di tiaq
Mipatada di pottanaq.
(Bukan awak perahu
Bila menunggu tenangnya ombak, redanya badai
Sebab ombaklah
Yang membawa hingga dapat tiba di daratan).
11. Tania to muane
Muaq jiripai gayang
Attonganang di tiaq
Di sanga to barani.
(Bukan pahlawan
Bila harus ada keris terselip di pinggang
Karena keadilan dan kebenaranlah
Yang dikatakan kesatria).
IX. KALINDAQDAQ TO SIPOMONGEQ (PUISI ROMANTIK)
1. Pitu buttu mallindungi
Pitu taq-ena ayu
Purai accur
Naola saliliq-u.
(Tujuh gunung menghalangi
Tujuh dahan kayu
Semua rata semuanya hancur
Dilanda rinduku).
2. Batu toyang dilolangan
Peatallangngoq-o naung
Apaq nanaolai
Lopinna tomasara nyawa.
(Wahai batu dan karang di tengah samudera
Tenggelam dan karamlah engkau
Karena akan dilintasi
Perahunya kelana yang merana).
3. Ulamung batui sarau
Di naunna ende’mu
Jappoq-I batu
Tanjappoq passengaq-u
(Kubenamkan cintaku, bak membenam batu
Di bawah tanggamu
Batu hancur
Tapi kerinduanku tak akan luntur).
4. Nalayangangmi cinnaq-u
Naliliang sarau
Iqdai mala
Dipasima-simangngi.
(Diterbangkannya harapanku
Dilayangkan harapanku
Tak dapat lagi
Untuk menahannya).
5. Mapanraq sonaiq toaq
Mongeaq sonai toaq
Muaq iq-o bandi
Usimonge-mongeang.
(Susah dan merana tak kan mengapa
Sakit pedih biarkan daku
Asalkan dikau
Membalas kasihku).
6. Ukolliangi sarau
Di lisu simbolongmu
Mau matindo
Muilalai toaq.
(Kuikatkan tanda kasihku
Di pusat sanggulmu
Biarpun kau nyenyak tidur
Kan terkenang juga kepadaku).
7. Pattuaq mannawa-nawa
Saqulaq mattimbangngi
Maupaq bandi
Muaq na teqtoq iq-o.
(Sulit sungguh memikirkan
Sukar nian merenungkan
Mujurlah diri
Bila engkau demikian jua).
8. Beru-beru baqbar-aoq
Pandeng malassuq-aoq
Napuppi-aoq
Ito pammalanreang.
(Melati, janganlah engkau mekar
Nenas, janganlah engkau layu
Jangan sampai di petik
Oleh insan yang pembosan).
9. Beru-beru penggilingmu
Bunga lawar passoemu
Bunga tipussuq
Peitammu leqmai.
(Bunga melati pandanganmu
Kembang mawar ayunan tanganmu
Bunga mekar harum
Lirikanmu terhadapku).
10. Mettugalanga di ayu
Ayu sappeq-o naung
Meindaq lao di pappang
Pappang raqbamo naung
Damaq dilino moge’ tandi pakannyang.
(Kuberpegang di dahan kayu
k' perbaxak kalindaqdaq tentang remaja donk.... by Putri Balanipa Mariona anak indo alewu
BalasHapusk' kalo bisa nerbitkan juga kalindaqdaq piparakee'... By Mariona Putri Balanipa Nakx Indo Alewu
BalasHapus