Gerbang rumah-Nya
Ketika tanah krapyak menganga
Seperti pintu rumah megah dan asri
Sedu sedan pun menghantam
Sebagai cermin kepekaan yang kental
Dari watak yang tampil nyata diantara sikap yang absurd dalam lakon hidup
Kepedihan kembali terhampar dan langkah kakiku sarat dengan letih
Sehingga tak bisa ku ayun lagi
Hanya bisa menatap kau masuki gerbang rumah-Nya
Pedih perihmu sudah berhenti
Tinggal rintihku mengental di kisi-kisi hati
dari bibir terucap janji untuk menyusulmu
bersama dan berkumpul lagi
seperti waktu kita workshop di kepatihan
makan gudeg di jalan solo, dan jadah bakar pakualaman
begadang dan ngobrol sampai pagi di angkringan pasar kembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Beri koment dong, karena komentar anda sangat bermanfaat buat perkembangan blog kami
Terima kasih.