Kami Mengutamakan Performance Yang Baik Demi Terwujudnya Sistem Kerja Yang Proffesional Sehingga Kepuasan Owner Bisa Terjamin


Selasa, 09 Oktober 2012

Pengamat: Popularitas Nasdem Ancam Golkar


Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai popularitas dan gagasan perubahan yang disampaikan Partai Nasional Demokrat (Nasdem) akan mengancam partai-partai lain, terutama Partai Golkar dan Partai Demokrat. “Yang terancam dengan kehadiran Nasdem adalah Partai Golkar, karena semua insfrastruktur partai itu digunakan oleh Nasdem. Juga Partai Demokrat dengan berbagai persoalan yang mendera,” kata Siti Zuhro di Jakarta, Rabu, (30/5). Siti Zuhro menjelaskan, proses transisi politik saat ini sudah kejenuhan dan reformasi partai yang belum tuntas membuat para pemilih beralih ke partai baru yang prospektif, yang memiliki basis ideologi kuat dan mencerminkan pluralitas. Menurut Siti, gagasan perubahan yang diusung Nasdem membuat publik menengok partai baru ini, apalagi partai yang saat ini eksis tidak menjawab kebutuhan masyarakat. Hal itu tambahnya terbukti dari banyak tuntutan dan gugatan publik terhadap parpol saat ini. “Pemilih kita memang lagi ganjen yang namanya perubahan. Karena itu, gagasan Nasdem menjadi daya tarik tersendiri untuk para pemilih,” kata Siti. Menurut Siti, Nasdem akan diminati karena tidak ada memori negatif yang akan diingat masyarakat dan ini menjadi amunisi untuk menang. Pengamat politik UI Boni Hargens mengatakan, menjelang Pemilu 2014, dan dalam konteks transisi politik yang belum tuntas, salah satu isu mendasar yang krusial adalah reformasi kepartaian. “Yang dibutuhkan Indonesia untuk keberhasilan demokratisasi adalah partai yang memiliki basis ideologi kuat, dan mencerminkan pluralitas. PDI-P dan Partai Golkar cukup menonjol dalam aspek pluralisme ini,” kata Boni. Dua partai tua ini, kata Boni, tidak bisa dijadikan jawaban atas kondisi kerumitan proses transisi politik, karena kegagalan di beberapa dimensi, antara lain dalam menciptakan pemerintahan bersih. Sementara itu, tambahnya semua partai menengah baru, yang juga masuk kategori partai tengah, mengalami titik balik yang kritis, terkait skandal korupsi dan berbagai kasus lain seperti yang dialami Partai Demokrat. “Partai kanan juga tidak begitu ideal, karena keterlibatan mereka dalam korupsi dan karena ideologi yang tidak tepat dengan konteks mayoritas rakyat Indonesia yang moderat,” kata Boni. Menurut Boni tidak ada sejarah bahwa partai kanan melampaui 20 persen perolehan suara dalam pemilu Indonesia. Hal ini tambahnya mencerminkan partai kanan bukanlah jawaban. “Indonesia memerlukan partai tengah yang pluralis, yang moderat, dan populis. Pada konteks inilah, partai baru seperti Nasdem bisa menjadi altenatif dalam krisis politik pasca 1998,? katanya. Menurut Boni partai baru tengah lain tentu saja berpeluang yang sama, namun Nasdem lebih propektif, karena sudah terbukti mendapat dukungan signifikan melalui hasil survei sejumlah lembaga, seperti LSI. Jurnal Nasional, 31 Mei 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beri koment dong, karena komentar anda sangat bermanfaat buat perkembangan blog kami
Terima kasih.